Pagi harinya, Hanna seperti biasa menaiki sepeda motor menuju sekolah. Dia selalu mempaskan waktu berangkat di pukul 6.15 am agar tepat sampai di sekolah pukul 6.25 am. Bukan untuk mengejar jam gerbang ditutup tapi untuk mempaskan waktu kedatangannya dengan pria yang menaiki motor Vespa berwarna abu-abu, Arjun. Selama setahun ini, Hanna sedikit banyak sudah hapal kebiasaan pria itu. Dan benar saja, saat Hanna sedang mencari tempat untuk memarkirkan motornya, dia bisa melihat motor Arjun yang baru memasuki halaman parkiran. Kalau dulu, jika Hanna dan Arjun bertemu diparkiran mereka hanya akan berjalan ke kelas berjauhan, seolah tidak mengenal satu sama lain. Namun kali ini, saat Hanna selesai memakirkan motornya, Arjun lebih dulu memanggilnya. "Han! Barengin." Hanna pun tersenyum kecil sambil menunggu Arjun mendekat agar bisa ke kelas bersama. "Btw rumah lo dimana Han?" Tanya Arjun. "Di komplek permata Ar." "Lah serius? Si Jovan juga tin...
Hanna sedikit tergesa mendekati ruang guru. Di depan pintu masuk, Hanna bisa melihat Arjun yang tengah bersender di tembok sambil memainkan ponselnya. "Ar, kenapa?" Tanya Hanna yang membuat Arjun menoleh. "Gapapa, Pak Simbolon mau nyuruh sesuatu kayanya." Arjun kemudian mendahului Hanna masuk ke ruang guru menemui wali kelas sekaligus guru matematika yang paling terkenal killer di sekolahnya, Pak Simbolon. "Pak, ini Hanna, sekretaris kelasnya." Kata Arjun saat sudah berhadapan dengan Pak Simbolon. "Oh iya, sini-sini." Kata Pak Simbolon menyuruh keduanya mendekat. "Ini kertas formulir target belajar siswa. Karena kalian udah kelas 12 jadi ini diperluluin buat nanti konsultasi sama guru BK. Nah, ini kalian fotocopy dan bagikan ke anak kelas suruh diisi semuanya ya, wajib. Besok dikumpulin langsung kasih ke guru BK." Arjun dan Hanna sama-sama mengangguk mendengar penjelasan Pak Simbolon sambil melihat isi kertas tersebut. Disi...