Waktu untuk menolak arus sosial.
![]() |
| walk your own way (@pinterest) |
Beberapa hari yang lalu topik seputar SBMPTN sedang trend dan banyak diperbincangkan di twitter.
Pengumuman kelulusan untuk melanjutan perkuliahan di PTN jadi suatu hal yang pastinya ditunggu oleh calon maba.
Dari beberapa tweet yang saya liat ada yang merasa senang dan bersyukur karna dapat diterima di kampus dan jurusan impiannya, tapi ga sedikit juga yang harus merasa kecewa karna belum berkesempatan masuk ke kampus impian. Melihat trend itu saya jadi teringat lagi pengalaman di tahun 2017.
Sebagai mantan calon maba yang juga pernah merasakan tertolak dari seleski SBMPTN ini saya tau betul rasa kecewanya.
Merasa bingung dan capek karna harus ikut seleksi mandiri lagi yang pastinya juga harus mengeluarkan biaya yang tidak sedikit.
Sampai saya ada di posisi yang sangat bimbang karna sudah coba ikut seleksi mandiri di beberapa PTN pun tetap tidak diterima.
Mau lanjut kuliah ke PTS juga bingung, mau pilih jurusan apa, dimana, belum lagi biaya pendidikan di PTS yang relatif mahal.
Ditengah kekecewaan (karna tertolak PTN) dan kebingungan (karna bingung mau lanjut dibidang apa) saya memutuskan untuk mengambil gapyear.
Dan di #randomtalk kali ini saya mau bahas pengalaman seputar gapyear yang semoga bisa bermanfaat dan jadi bahan pertimbangan kalau kalian-yang sedang baca ini-juga mau melakukan hal yang sama. Yuk, langsung kita mulai!
Gapyear tuh apa? Dan kenapa harus gapyear?
Dalam konteks saya sebagai lulusan SMA yang tertolak PTN, gapyear ini
adalah tahun dimana saya memilih untuk tidak melanjutkan kuliah dan
mengisi waktu untuk mempersiapkan seleksi ditahun berikutnya. Singkatnya sih nganggur.
Tapi kalau saya bisa mendefinisikan lebih dalam, gapyear sebagai waktu dalam hidup saya untuk sekedar berhenti dan melihat kedalam diri sendiri dan mencoba mengerti dan mengenal siapa diri kita, apa yang kita inginkan, dan apa yang mau kita lakukan.
Mungkin banyak orang yang beranggapan gapyear ini adalah suatu hal yang membuang waktu dan umur, karna memang secara teknis kita akan tertinggal dari teman seangkatan kita.
Tapi untuk saya, mengambil waktu untuk sekedar mengerti secara utuh diri sendiri ketimbang memaksakan diri untuk ikut dalam 'arus sosial' tanpa tau apa yang mau kita lakukan adalah suatu hal yang lebih bijak.
Katakanlah kalian sedang ada diposisi yang sama dengan saya tiga tahun lalu. Lulus SMA kalian bisa memilih antara lanjut kuliah atau langsung berkerja.
Tapi memilih jurusan untuk lanjut kuliah pun tidak tau apa yang sesuai dengan minat dan keinginan.
Tapi demi untuk tetap mengikuti 'arus sosial' agar tak tertinggal dari yang lainnya, kita memilih jurusan yang mungkin tidak sesuai dengan pribadi kita.
Apa aja yang penting kuliah, gasuka jurusan ini pun gapapa yang penting kuliah.
Akan lain cerita kalau kalian bisa mencintai bidang yang kalian asal pilih tadi, tapi kalau tidak, apa kalian akan lebih baik?
Untuk menghindari penyesalan itu, saya rasa baik untuk mengambil gapyear ini. Dan benar-benar memanfaatkan waktunya untuk dapat mengerti diri sendiri dan apa yang mau kita lakukan kedepan.
Just because you're resting, you think you're not growing. While resting, you mature, you get to think a lot. Not to hurry, slowly, solidly, not too embarrassing.
Manfaat yang di Rasa Setelahnya
Saat awal gapyear, saya sering merasa salah mengambil keputusan ini.
Tapi setelah masa gapyear ini berlalu saya jadi suka sadar dan berpikir kalo ada untungnya juga pernah gapyear.
Seperti saya bisa punya waktu lebih dengan orang tua, bisa pergi ketempat yang dulu pengen banget kesana, bisa ngerti cara belajar yang efektif buat diri sendiri, bisa tau kalo ngerasain ini harus gimana bersikapnya.
Dan banyak hal yang saya syukuri ketika melakukan gapyear. Entah apakah saya akan jadi berbeda kalo dulu saya ga gapyear.
Mungkin kalian juga akan merasa hal yang sama saat menjalani gapyear.
Awalnya kalian akan merasa ini ga berguna tapi coba percaya kalo aktifitas baik yang kalian lakukan saat ini ga akan sia-sia dan akan bermanfaat di masa depan.
Jangan Minder
Oke, kalian mungkin udah yakin mau gapyear tahun ini. Tapi tetep aja ada perasaan sedih, minder dan merasa gaada apa-apa nya dibanding temen lain yang udah selangkah didepan.
Yaaa, wajar kok kalau ngerasa begitu. Tapi yang harus kalian tau, jangan sampai hal itu malah bikin kalian mencap diri sendiri sebagai produk gagal yang malah menghambat kalian untuk memanfaatkan waktu gapyear dengan maksimal.
Dibawa santai aja, kalian bukan gagal atau ga berkembang hanya karna memilih untuk berhenti mengikuti arus sosial.
Waktu saya ada diposisi 'minder' ini, tanpa disengaja saya menemukan sebuah tulisan yang sangat apik dari buku Time of Your Life oleh Random Kim yang dapat membuat saya merasa lebih baik. Tulisan nya seperti ini:
Apakah kamu merasa tertinggal dari teman-teman? Apakah kamu merasa telah menyia-nyiakan waktu sementar teman-temanmu mulai melangkah menuju kesuksesan? Jika kamu berpikir demikian, ingatlah bahwa kamu memiliki masa mekarmu sendiri, begitu juga teman-temanmu. Musim mu belum datang. Namun, ia pasti akan datang ketika kuncupmu terbuka. Mungkin kuncup itu mekar lebih lama dari yang lain, tetapi ketika sampai pada waktunya, kamu akan mekar dengan begitu indah dan menawan seperti bebungaan lain yang mekar sebelum dirimu. Jadi, angkatlah kepalamu dan bersiaplah menyambut musimmu. -Rando Kim
Sadari setiap orang berbeda dan mempunyai waktunya masing-masing agar kalian dapat bisa menghargai diri sendiri.
Gapyear Belum Tentu Jadi Batu Loncatan
Mungkin banyak diantara kalian yang sebelumnya sudah baca cerita dari temen-temen lain yang bisa tembus masuk PTN yang diinginkan setelah melakukan gapyear.
Dan kalian jadi berpikir gapyear ini sebagai 'jalan emas' untuk bisa masuk PTN setelah tertolak di tahun sebelumnya.
Nah ada satu hal yang harus kalian tekantan, harus benar-benar kalian ingat!
Ini juga yang seharusnya saya sadari lebih awal ketika mengambil gapyear di tahun 2017 lalu.
Walaupun kalian sudah mempersiapkan tes masuk selama masa gapyear, kalain sudah belajar mati-matian dengan mengorbankan waktu, tenaga dan lainnya, bahkan kalian sudah siap untuk tes seleksi, tetaplah ingat kalau hasil yang nanti keluar itu tetap diluar kendali kalian.
Sehingga nanti walaupun hasil akhirnya adalah yang terburuk yang pernah kalian pikirkan, kalian tidak akan kecewa lagi untuk kedua kali dan merasa gapyear ini adalah sebuah kesia-sian.
Fokus aja pada pengembangan diri sendiri agar kita bisa lebih baik dari hari sebelumnnya, masa bodolah dengan hasil akhir.
Kondisi Lain
Tentu banyak faktor diluar kita sendiri yang harus jadi pertimbangan sebelum memilih gapyear seperti orang tua, keluarga, maupun keadaan finansial.
Saya
mungkin salah satu yang masih beruntung, karna orang tua dan keluarga
yang mendukung pilihan saya ini tanpa syarat atau apapun.
Nah, alangkah baik nya sebelum mutusin untuk gapyear kalian ngobrolin ini secara baik dengan keluarga, termasuk orang tua.
Kalau kalian bisa menjelaskan nya dengan baik saya percaya orang tua kalian juga akan mengerti.
Tapi tentu setiap orang mempunyai latar belakang yang berbeda, mungkin banyak diantara kalian yang ingin mengambil gapyear tapi terhalang restu orang tua.
Tapi ingat apapun halangannya, keputusan akhir seharusnya tetap ada ditangan kalian sebagai yang menjalani kehidupan.
Oke, mungkin itu aja yang mau saya sharing seputar gapyear.
Sebagai penutup saya mau membagikan puisi dari Mata Najwa, program TV favorit di Indonesia yang tahun 2017 lalu juga sempat memilih berhenti sejenak dari penayangan.
Yang bisa dilakukan selekasnya melangkah,
dengan derap yang tak boleh setengah-setengah
Berucap syukur pada-Nya,
sepanjang jalan yang terus menyerta
Menghayati keindahan tanah air,
menghirup keragaman yang tak boleh berakhir
Namun mustahil terus berlari,
pemahaman kadang muncul saat berhenti
Waktunya mengambil jeda beberapa saat,
agar riwayat tak lekas tumpat pedat
Memahami perubahan yang begitu cepat,
menjaga saujana agar terus terlihat
Menyegarkan lagi khidmatnya menjadi indonesia,
siapa tahu dapat berbagi hal yang berharga
Jika saatnya bergerak sudah menjelang,
mata najwa niscaya kembali datang
Menyongsong segala yang akan tiba,
dengan derap yang semoga lebih bertenaga
Berkarya dengan sepenuh daya,
sembari memberi makna waktu dan jeda
-CATATAN NAJWA-

Komentar
Posting Komentar