Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2023

AU3

Pagi harinya, Hanna seperti biasa menaiki sepeda motor menuju sekolah. Dia selalu mempaskan waktu berangkat di pukul 6.15 am  agar tepat sampai di sekolah pukul 6.25 am.  Bukan untuk mengejar jam gerbang ditutup tapi untuk mempaskan waktu kedatangannya dengan pria yang menaiki motor Vespa berwarna abu-abu, Arjun. Selama setahun ini, Hanna sedikit banyak sudah hapal kebiasaan pria itu. Dan benar saja, saat Hanna sedang mencari tempat untuk memarkirkan motornya, dia bisa melihat motor Arjun yang baru memasuki halaman parkiran.  Kalau dulu, jika Hanna dan Arjun bertemu diparkiran mereka hanya akan berjalan ke kelas berjauhan, seolah tidak mengenal satu sama lain. Namun kali ini, saat Hanna selesai memakirkan motornya, Arjun lebih dulu memanggilnya. "Han! Barengin." Hanna pun tersenyum kecil sambil menunggu Arjun mendekat agar bisa ke kelas bersama. "Btw rumah lo dimana Han?" Tanya Arjun. "Di komplek permata Ar." "Lah serius? Si Jovan juga tin...

AU2

Hanna sedikit tergesa mendekati ruang guru. Di depan pintu masuk, Hanna bisa melihat Arjun yang tengah bersender di tembok sambil memainkan ponselnya. "Ar, kenapa?" Tanya Hanna yang membuat Arjun menoleh. "Gapapa, Pak Simbolon mau nyuruh sesuatu kayanya."  Arjun kemudian mendahului Hanna masuk ke ruang guru menemui wali kelas sekaligus guru matematika yang paling terkenal killer di sekolahnya, Pak Simbolon. "Pak, ini Hanna, sekretaris kelasnya." Kata Arjun saat sudah berhadapan dengan Pak Simbolon. "Oh iya, sini-sini." Kata Pak Simbolon menyuruh keduanya mendekat. "Ini kertas formulir target belajar siswa. Karena kalian udah kelas 12 jadi ini diperluluin buat nanti konsultasi sama guru BK. Nah, ini kalian fotocopy dan bagikan ke anak kelas suruh diisi semuanya ya, wajib. Besok dikumpulin langsung kasih ke guru BK." Arjun dan Hanna sama-sama mengangguk mendengar penjelasan Pak Simbolon sambil melihat isi kertas tersebut. Disi...

AU1

Hanna memasuki kelas barunya yang tertera plang XII MIPA 1. Kelas yang anak-anak lain bilang merupakan kelas unggulan karena ditempati oleh siswa yang memiliki nilai akademi dan non-akademik yang bagus serta tempat sekumpulan siswa yang sering orang bilang 'ambis'.  Hanna sendiri termasuk siswi rata-rata, tidak terlalu pintar dan tidak juga bodoh. Dia bisa masuk kelas MIPA 1 karena beruntung di kelas 10 sempat masuk ranking atas. Tidak ada yang berbeda saat memasuki kelas baru ini, semua murid sudah saling kenal karena merupakan teman yang sama seperti di kelas 11.   Suasana kelas sudah ramai dan hampir semua bangku telah ditempati oleh setiap siswa. Yang tersisa hanyalah bangku di deretan paling pojok kiri, baris ke dua. Hanna mendekat ke meja tersebut dan menaruh tas nya. Sejujurnya, dari tadi Hanna telah menjerit girang dalam hati. Jantungnya berdebar saat mengetahui orang yang duduk dibangku belakangnya merupakan Arjun dan teman baiknya Gio.  Sudah setahun...