Langsung ke konten utama

AU3


Pagi harinya, Hanna seperti biasa menaiki sepeda motor menuju sekolah. Dia selalu mempaskan waktu berangkat di pukul 6.15 am  agar tepat sampai di sekolah pukul 6.25 am. 

Bukan untuk mengejar jam gerbang ditutup tapi untuk mempaskan waktu kedatangannya dengan pria yang menaiki motor Vespa berwarna abu-abu, Arjun. Selama setahun ini, Hanna sedikit banyak sudah hapal kebiasaan pria itu.

Dan benar saja, saat Hanna sedang mencari tempat untuk memarkirkan motornya, dia bisa melihat motor Arjun yang baru memasuki halaman parkiran. 

Kalau dulu, jika Hanna dan Arjun bertemu diparkiran mereka hanya akan berjalan ke kelas berjauhan, seolah tidak mengenal satu sama lain.

Namun kali ini, saat Hanna selesai memakirkan motornya, Arjun lebih dulu memanggilnya.

"Han! Barengin."

Hanna pun tersenyum kecil sambil menunggu Arjun mendekat agar bisa ke kelas bersama.

"Btw rumah lo dimana Han?" Tanya Arjun.

"Di komplek permata Ar."

"Lah serius? Si Jovan juga tinggal disitu."

"Masa sih? Gua ga pernah kaya ga sengaja ketemu sama dia."

"Iya dia di blok B kalo ga salah."

"Oh pantes sih, gua rada kedalem lagi di blok P nya."

"Blok P tuh yang deket tempat mie ayam itu bukan sih?"

Hanna sedikit terkejut, "Iyaa, kok lo tau aja dah?"

"Wkwkw tau lah, itu tempat langganan kalo anak-anak main ke rumah Jovan."

Hanna menangguk. Sebenarnya dia juga sering beli makan di tempat mie ayam terkenal dekat rumahnya itu, tapi tidak pernah sekalipun Hanna bertemu dengan Jovan maupun Arjun.

Saat mereka sedang berjalan dipinggir lapangan, suara yang Hanna kenal memanggilnya.

"Kak Hanna!"

Hanna dan Arjun sama-sama menoleh pada suara tersebut.

"Hai Fandi." Sahut Hanna.

Lelaki bernama Fandi itu sedikit berlari untuk bergabung disamping kiri Hanna.

Raven Irfandi atau yang sering Hanna panggil Fandi merupakan junior kelas 11 sekaligus ketua dari ekskul taekwondo sekolahnya.

Fandi sedikit menundukan kepalanya, menyapa Arjun saat tatapan mereka bertemu.

"Bang Arjun ya? Sekelas sama kak Hanna juga bang?" 

"Hah? Iya sekelas."

"Oh.. gua Fandi bang, dari kelas 11ips3. Nanti sore yang mau sparing bareng kelas lo."

"Ohh iyaa baru inget gua ada futsal ntar."

"Lo ikut tapi bang?"

"Gas lah."

"Besok lo latihan kan kak?" Tanya Fandi pada Hanna.

Hanna mengangguk, "Iya dong."

"Turnamennya tinggal sebulan lagi lo udah siap kak?"

"Mau minggu depan juga gua siap." Ucap Hanna.

Fandi tertawa mendengar jawaban sok percaya diri dari Hanna, "Wedeh ngeri banget suhu."

"Tapi kak, berarti ini turnamen terakhir lo ya?" Lanjutnya.

"Iya, semester depan udah ga boleh ikut ekskul kalo kelas 3, fokus SNBT."

"Tapi masih bakal latihan kan?" Tanya Fandi yang seolah menuntut jawaban iya dari Hanna.

"Kalo ga capek sih gua bakal dateng." 

"Fan gua duluan ya." Kata Hanna saat mereka harus berjalan ke arah gedung yang berbeda.

"Oke kak, besok jangan telat."

"Siap." Jawab Hanna dan kembali melanjutkan jalannya.

"Anak tekwondo dia Han?" Tanya Arjun. 

"Iya, ketua yang sekarang itu."

"Tinggi banget ya."

"Ga setinggi harapan ortu gua sih." Jawab Hanna yang membuat Arjun tertawa.

**

Di jam kedua, yang seharusnya diisi dengan pelajaran matematika itu kini diganti dengan sesi konseling oleh guru BK. 

Dua hingga tiga murid dari kelas 12 MIPA 1 bergantian dipanggil ke ruang BK sesuai dengan jurusan yang telah mereka pilih.

Dimas yang baru selesai konseling masuk ke kelas kemudian menarik bangku ke samping meja Arjun. Bergabung dengan Arjun, Gio, Jovan dan Hanna yang sedari tadi sedang ngobrol bareng.

"Lo mau tau ga gua ditanya apa aja?" 

"Apa?" Sahut Gio.

"Kan gua ditanya sama Bu Eva kenapa milih jurusan perternakan, terus gua jawab 'Makanan kesukaan saya pecel lele Bu." Cerita Dimas.

"Hah?" Kata keempat temannya heran.

"Nah percis banget. Bu Eva juga bilang 'Hah? Maksudnya?'. Terus gua bilang, 'Iya Bu saya dari kecil suka makan pecel, saking sukanya saya jadi penasaran gimana caranya lele yang dari gapunya kumis, terus tumbuh sampe dewasa dan akhirnya bisa sampe digoreng sama abang pecel lele'." Kata Dimas sambil menirukan cara bicaranya tadi.

"Eh Bu Eva nya malah badmood terus ngomong 'Jadi kamu kenapa milih jurusan pertenakan?', ya gua jawab 'Saya mau jadi pertenak ikan koi Bu biar cepet kaya." Lanjut Dimas.

Keempat temannya kembali menghela napas. Gio sekuat tenaga menahan tangan Jovan yang sedari tadi ingin memukul Dimas. 

"Gua kalo jadi Bu Eva udah gua benyek-benyek dah lo." Kata Hanna geleng-geleng.

"Emang kenapa?" Tanya Dimas dengan polos.

"Kaga nyambung goblok!" Sahut ketiga teman pria nya itu berbarengan.

Setelahnya, giliran Arjun dan Hanna yang dipanggil ke ruang BK untuk konsultasi karena hanya mereka yang memilih jurusan kedokteran dipilihan pertama.

Mereka kemudian duduk di depan Bu Eva setelah memasuki ruangannya.

"Arjun dan Hanna ya? Kalian kenapa pengen jurusan kedokteran?"

"Ehm... Pertama saya suka biologi Bu dan udah impian saya juga dari kecil." Kata Hanna duluan setelah mendapat sinyal dari Arjun.

Bu Eva menangguk, "Kalo kamu Arjun?"

"Sama Bu, saya juga."

"Terus kalian rencananya mau ke universitas apa?"

"Pilihan pertama saya UNPAD bu kalo engga UI." Jawab Hanna.

"Sama Bu, saya juga." Sahut Arjun.

Hanna memandangi Arjun heran, sementara pria itu hanya tersenyum pura-pura tidak melihat Hanna.

"Tapi kalian tau kan, bukan cuma bagus dia biologi aja kalo mau masuk jurusan kedokteran?" Tanya Bu Eva lagi.

Keduanya menangguk.

"Kalo diliat dari nilai kalian dari kelas 10 cukup bagus ya mata pelajaran MIPA wajibnya stabil dan cukup meningkat. Dan kalo dibandingin dengan nilai kakak kelas kalian yang keterima di kedokteran, nilai kalian juga cenderung masuk kategori." Kata Bu Eva sambil melihat-lihat hasil rapot Hanna dan Arjun.

"Tapi kalo saya sarankan kalian bisa ambil bimbel lagi kalo mau serius ambil jurusan itu, karena seperti yang kalian tau pasti peminatnya banyak untuk jurusan kedokteran. Apa kalian udah ikut bimbel?"

"Kalo saya sudah Bu di OG."

"Oh bagus, kalo kamu Arjun?"

"Sama Bu.-"

"-Maksudnya saya juga mau daftar di OG Bu." Kata Arjun lebih panjang setelah mendapat tatapan sinis dari Hanna.

"Oke bagus kalo gitu. Kalian mulai dari sekarang ya sering-sering latihan soal, nati kita coba evaluasi lagi ya nilai dan hasil try out kalian tiga bulan lagi." Lanjut Bu Eva.

Setelah menyelesaikan sesi konsultasi itu mereka pun berjalan kembali ke kelas. 

"Kok lo ngikutin gua mulu si?" Tanya Hanna. Bukannya tidak senang, tapi Hanna akan menjadi gila jika Arjun terus melakukan itu. Iya dia jadi baper sendiri!

"Soalnya kita sehati." Kata Arjun enteng tampa memikirkan dampaknya pada Hanna.

"Alah bilang aja lo males mikir." Jawabnya yang membuat Arjun tertawa.

"Tapi lo beneran mau les di OG Ar?"

"Bener ntar gua daftar."

Arjun kemudian mengulurkan tangannya kepada Hanna seperti ingin berjabat tangan.

Hanna menatapnya bingung namun tetap menerima uluran tangan itu. 

Arjun menjabat tangan Hanna, "Ayok Han, kita harus bisa... ayok ngambis bareng.

Hanna secara otomatis tersenyum, dia mengangguk mengiyakan, "Ayok.. Jadi dokter bareng ya kita Ar."

Dalam hati, Hanna sangat meng-amin-kan doa tersebut kepada tuhannya.

-


Komentar

Postingan populer dari blog ini

AU1

Hanna memasuki kelas barunya yang tertera plang XII MIPA 1. Kelas yang anak-anak lain bilang merupakan kelas unggulan karena ditempati oleh siswa yang memiliki nilai akademi dan non-akademik yang bagus serta tempat sekumpulan siswa yang sering orang bilang 'ambis'.  Hanna sendiri termasuk siswi rata-rata, tidak terlalu pintar dan tidak juga bodoh. Dia bisa masuk kelas MIPA 1 karena beruntung di kelas 10 sempat masuk ranking atas. Tidak ada yang berbeda saat memasuki kelas baru ini, semua murid sudah saling kenal karena merupakan teman yang sama seperti di kelas 11.   Suasana kelas sudah ramai dan hampir semua bangku telah ditempati oleh setiap siswa. Yang tersisa hanyalah bangku di deretan paling pojok kiri, baris ke dua. Hanna mendekat ke meja tersebut dan menaruh tas nya. Sejujurnya, dari tadi Hanna telah menjerit girang dalam hati. Jantungnya berdebar saat mengetahui orang yang duduk dibangku belakangnya merupakan Arjun dan teman baiknya Gio.  Sudah setahun...

Belajar ke Kampung inggris pare? Persiapkan ini sebelum kesana!

Kampung inggris pare adalah wilayah di daerah Kediri yang menjadi tempat oleh banyak orang untuk belajar bahasa inggris, setiap orang datang dari berbagai daerah lain di Indoneia dengan target, tujuan, dan waktu belajar yang berbeda. Bagi kamu yang juga mau atau akan segera kesana ada baiknya persiapkan hal-hal penting dibawah ini agar uang dan waktu yang sudah kalian korbankan bisa lebih dioptimalkan.