Langsung ke konten utama

Comparism

Semester baru ini saya tepat menginjak semester ke-lima di kuliah. Semester yang katanya orang-orang menjadi titik jenuh dalam dunia perkuliahan. Bukan hanya itu, banyak ke khawatiran yang bermunculan pada mahasiswa saat menginjak semester ini.

Mulai dari kegalauan dengan minat di jurusan yang udah terlanjur dijalanin bahkan sampai kekhawatiran akan skripsi dan dunia kerja yang sebentar lagi bakal dihadapi.

Saya pun ga ketinggalan terkena kekhawatiran itu. Menjelang akhir semester empat kemarin, kecemasan itu mulai muncul terutama yang berhubungan dengan dunia pekerjaan.

Berangkat dari keresahan itu, sayapun menginstal sebuah aplikasi jobstreet untuk mencari informasi tentang rekrutment pekerjaan. Rencananya saya mau melihat syarat apa saja yang harus dimiliki di beberapa pekerjaan impian, dengan harapan bisa mempelajari nya dan mempersiapkannya dari sekarang.

Tapi yang terjadi bukan hanya melihat informasi pekerjaan tadi, saya malah lebih banyak melihat  profil orang-orang lain, lebih tepatnya ngestalking

Sering sekali saya melihat banyak sekali mahasiswa lain dengan sederet prestasi, penghargaan dan pengalaman kerja di tempat ternama walaupun banyak yang baru di semester awal kuliah.

Hal itu membuat saya sedikit ke-triggered. Saya jadi merasa sangat tertinggal karna walaupun sudah masuk semester akhir tapi belum juga punya pengalaman kerja, internsip diluar kampus, penghargaan lomba atau pengalaman menarik lainnya.

Dalam diri saya muncul rasa untuk bisa seperti mereka, merasa termotivasi untuk belajar skill yang mereka punya agar saya tidak 'tertinggal'.

"Wah keren dia punya skill ini, ok aku juga harus belajar skill ini!"

"Oh sekarang skill ini yang banyak dibutuhin, ok aku harus belajar yang ini juga!"

"Wah dia udah pernah intern disini dan disini, aku juga harus coba daftar-daftar!"

Sejauh itu masih berjalan baik. Saya jadi punya motivasi lebih untuk belajar, dapat pengetahuan baru tentang sesuatu dan jadi tau banyak hal positif yang bisa coba di explore. 

 
Sampai akhirnya saya merasa mulai ada yang berbeda pada diri saya. Semakin hari saya jadi semakin tertekan. Merasa seperti dikejar-kejar untuk bisa menguasai segala hal, merasa tertinggal dari teman-teman lainnya, suka menilai rendah diri sendiri, sampai selalu menyalahkan keadaan yang sebenarnya gabisa saya kendaliin.
 
Misalnya, ketika saat gagal dalam mengikut internsip dibeberapa tempat, yang saya lakukan malah semakin menyalahkan diri tanpa sedikipun memerdulikan usaha atau berterima kasih pada diri sediri yang sudah mau mencoba. Padahal hasil akhir adalah hal yang sudah di luar kendali.

Semangat yang berlebihan itu malah membawa pengaruh yang cukup buruk bagi pribadi saya. Niat awal untuk mempelajari hal baru tadi mulai berjalan ga sehat. 
 
Beruntung, saya sadar akan warning ini lebih dini dan bisa mencoba menanganinya lebih cepat. Dan setelah mencari lebih dalam, kekhawatiran saya tadi merupakan salah satu efek dari tindakan Membandingkan Diri Sendiri.
 
Sebelumnya saya tidak merasa bahwa tindakan itu adalah bentuk dari membandingkan diri, karna seperti yang disebutkan diawal melihat kemampuan orang yang lebih diatas malah memicu saya untuk bisa lebih baik dan saya pikir itu positif.

Tapi seperti yang kita tau, segala hal yang berlebihan memang tidak baik dan membandingkan diri tanpa mengapresiasi diri sendiri adalah salah satu prilaku yang toxic.
Tapi dari pengalaman ini, sekali lagi saya bisa belajar mengenal diri sendiri dan mencoba untuk #HidupSeutuhnya.
 
Dan disini saya mau membagikan hal yang saya lakukan untuk memperbaiki diri yang siapa tau bisa membawa kebaikan juga untuk kalian yang mungkin sedang merasakan hal serupa.

1. Kenali tujuan dan prioritas

Dijaman serba teknologi sekarang banyak memunculkan lapangan kerja baru dengan keharusan punya keahlian yang semakin berkembang.

Kalo kita merasa harus untuk menguasai semua hal maka kita tidak akan pernah menjadi master di segala bidang. Dari banyaknya skill yang ada lebih baik kita memilih beberapa yang kita yakin bisa menguasainya.

Saya sebelumnya juga merasa harus untuk menguasai semua bidang yang orang lain punya, padahal skill itu tidak terlalu relate dengan tujuan karir. Hal itu tentu sangat tidak realistis karna kita sebagai manusia juga punya kapasitas dan kapabilitas yang terbatas.

Untuk itu penting mengetahui tujuan atau karir apa yang ingin kita lakukan kedepannya agar kita bisa fokus menentukan prioritas pembelajaran atau pengembangan skill yang dibutuhkan.

True expertise is not in knowing lots of stuff, it’s in the ability to sort the useful from the useless.

 2. Batasi penggunaan sosial media

Salah satu cara juga yang sekarang saya lakukan adalah untuk ga banyak-banyak buka sosial media. Seperti cerita awal tadi, saya jadi sering membandingkan diri dan mencoba untuk seperti orang lain karna berawal dari 'terlalu sering' nge-stalking orang yang sebenarnya ga ada gunanya.
Dengan membatasi penggunaan sosial media, jadi lebih sedikit kemungkinan kita untuk overthingking saat ngeliat kelebihan yang selalu diperlihatkan orang-orang di sosial media, sehingga kita punya lebih banyak waktu untuk fokus pada kegiatan bermanfaat lainnya.
 
Tapi ini tentu balik lagi ke pribadi masing-masing. Selama kalian bisa membatasi diri terhadap penggunaan sosial media mungkin kalian ga akan mengalami hal yang sama seperti saya.

3. Jangan berusaha jadi orang lain

Membandingkan diri ini sebenarnya bisa menjadi hal yang positif karna terkadang kita juga perlu melihat kelebihan orang lain agar bisa terpacu untuk mengembangkan diri.
 
Tapi yang harus ditekankan, kita boleh punya orang yang kita kagumin kepintarannya, atau kesuksesannya, kita juga boleh mengikuti cara-cara agar berhasil yang mereka lakukan, tapi kita ga harus jadi mereka. 
 
Kita gaharus secepat mereka, atau mungkin sesukses mereka. Jadi gaperlu merasa terbebani kalo kita ga bisa meraih apa yang orang lain raih. Karna kita sudah punya porsi masing-masing yang berbeda setiap orang.

 4. Nikamati proses

Keahlian adalah proses dari pembelajaran yang panjang. Orang-orang ahli dari berbagai bidang contoh seperti Warren Buffett, Jack Ma, atau tokoh lainnya juga pasti pernah menjadi seorang amatir. Mereka bisa sampai di titik sukses seperti sekarang pun lewat perjuangan dan pembelajaran yang ga bisa sehari-dua hari dilakukan.

Sama halnya seperti kita. Jangan sampai karna merasa terburu-buru untuk bisa meraih atau menguasi sesuatu kita jadi melupakan proses yang harus dijalani. 

Santuy aja, nikmatin prosesnya! (@pinterest)
 
Ibaratkan sebuah es batu yang di taruh di tempat terbuka. Es tersebut membutuhkan waktu lama untuk bisa cair. Setetes, dua tetes sampai akhir nya bisa berubah wujud menjadi air. Kita mungkin ga sadar es itu lama-lama menyusut yang kita tau hanya setelah mereka menjadi air, padahal ada proses panjang dan memakan waktu yang harus dilalui es tadi.
 
Sama hal nya ketika kita sedang berproses atau ketika kita sedang mempelajari suatu hal. Mungkin kita tidak menyadari kalo kita menjadi lebih baik dari hari sebelumnya tapi percayalah apa yang kita lakukan sekarang akan membentuk kita menjadi ahli dimasa depan.

Jadi jangan berhenti untuk terus belajar dan berkembang menjadi lebih baik, seengganya Satu Persen setiap harinya!

5. Hargai diri sendiri

Kita semua tau kalo hate speech, bulliying, mengejek, dan tindakan menyakiti lainnya kepada orang lain baik secara verbal maupun fisik adalah prilaku yang buruk. 

Tapi, tanpa sadar kita malah suka mengabaikan dan malah melakukan perbuatan buruk tadi terutama secara verbal kepada diri sendiri. Orang paling pertama yang seharusnya kita apresiasi dan kita beri semangat. 
 
Misalnya, pernah ga kalian ngomong kaya gini,
"Dah, aku mah apa atuh..." 
"Yaudah lah gausah, aku mana bisa ngeraih itu." dan semacamnya.

Tapi beda kalo kalian dicurhatin temen yang lagi ngerasa down. Kalian pasti langsung mengeluarkan kata-kata bijak atau motivasi lain agar temen kalian itu setidaknya jadi merasa lebih baik.
 
Nah, sadarkan kalau kita emang suka berlaku ga adil ke diri kita? Jadi, mulai sekarang jangan lagi ngomong yang jelek atau ngeremehin ke diri sendiri. Perlakukan lah diri kalian seperti kalian memperlakukan orang lain, karna kalian juga butuh disemangati dan diapresiasi.
 
Pada dasarnya, alasan kenapa kita suka membandingkan diri sendiri adalah karena kita ingin mencari kepastian bahwa diri kita lebih baik dibanding orang lain dan kurang merasa cukup dengan apa yang kita punya sekarang.
 
Mungkin karna itu, muncul rasa 'kalah' yang membuat kita jadi suka membandingkan diri dengan orang lain. Karna kita ga mau untuk menerimanya akhirnya membuat kita malah terus tertekan. Maka terima lah dulu rasa kalah itu, terima dulu kalo kita memang tidak sehebat orang lain. 
 
Toh, kita juga masih punya kesempatan untuk bisa mengejar dan belajar selama kita masih hidup. Fokus saja pada pengembangan dan bagaimana cara agar kita bisa lebih baik dari hari ini, tapi lakukan lah hal itu untuk diri sendiri bukan agar dapat 'menang' dari orang lain.
 
Salah satu kutipan dari Epictetus yang dikutip dari buku Filosofi Teras (Hal 81) karya Henry Manampiring ini juga bisa jadi refleksi kalo mungkin kita masih juga insecure saat melihat kelebihan orang lain:
Ini adalah nalar yang keliru, ‘Saya lebih kaya, artinya saya lebih baik dari kamu’, atau saya lebih pandai berkata-kata (eloquent), artinya saya lebih baik dari kamu.

Kita suka sekali hanya melihat kekayaan atau kelebihan orang sebagai cerminan dari kualitas nya sebagai manusia, padahal menurut Epictetus hal itu (kekayaan, keahlian, kecantikan, kekuatan) tidak serta merta membuat orang lebih baik dari kita.

Maka sudahi lah overthinking, iri hati, insecure dan lainnya saat melihat kelebihan orang lain karna hal itu tidak bisa otomatis menjadi tolak ukur keberhasilannya sebagai 'manusia'.
 
Jadi mulai sekarang (khususnya untuk saya), ga ada lagi alasan untuk membandingkan diri dengan orang lain, karna kita juga sama berharganya!
 
 
 
#SatuPersenBlogCompetition #HidupSeutuhnya

Komentar

Postingan populer dari blog ini

AU3

Pagi harinya, Hanna seperti biasa menaiki sepeda motor menuju sekolah. Dia selalu mempaskan waktu berangkat di pukul 6.15 am  agar tepat sampai di sekolah pukul 6.25 am.  Bukan untuk mengejar jam gerbang ditutup tapi untuk mempaskan waktu kedatangannya dengan pria yang menaiki motor Vespa berwarna abu-abu, Arjun. Selama setahun ini, Hanna sedikit banyak sudah hapal kebiasaan pria itu. Dan benar saja, saat Hanna sedang mencari tempat untuk memarkirkan motornya, dia bisa melihat motor Arjun yang baru memasuki halaman parkiran.  Kalau dulu, jika Hanna dan Arjun bertemu diparkiran mereka hanya akan berjalan ke kelas berjauhan, seolah tidak mengenal satu sama lain. Namun kali ini, saat Hanna selesai memakirkan motornya, Arjun lebih dulu memanggilnya. "Han! Barengin." Hanna pun tersenyum kecil sambil menunggu Arjun mendekat agar bisa ke kelas bersama. "Btw rumah lo dimana Han?" Tanya Arjun. "Di komplek permata Ar." "Lah serius? Si Jovan juga tin...

AU1

Hanna memasuki kelas barunya yang tertera plang XII MIPA 1. Kelas yang anak-anak lain bilang merupakan kelas unggulan karena ditempati oleh siswa yang memiliki nilai akademi dan non-akademik yang bagus serta tempat sekumpulan siswa yang sering orang bilang 'ambis'.  Hanna sendiri termasuk siswi rata-rata, tidak terlalu pintar dan tidak juga bodoh. Dia bisa masuk kelas MIPA 1 karena beruntung di kelas 10 sempat masuk ranking atas. Tidak ada yang berbeda saat memasuki kelas baru ini, semua murid sudah saling kenal karena merupakan teman yang sama seperti di kelas 11.   Suasana kelas sudah ramai dan hampir semua bangku telah ditempati oleh setiap siswa. Yang tersisa hanyalah bangku di deretan paling pojok kiri, baris ke dua. Hanna mendekat ke meja tersebut dan menaruh tas nya. Sejujurnya, dari tadi Hanna telah menjerit girang dalam hati. Jantungnya berdebar saat mengetahui orang yang duduk dibangku belakangnya merupakan Arjun dan teman baiknya Gio.  Sudah setahun...

Belajar ke Kampung inggris pare? Persiapkan ini sebelum kesana!

Kampung inggris pare adalah wilayah di daerah Kediri yang menjadi tempat oleh banyak orang untuk belajar bahasa inggris, setiap orang datang dari berbagai daerah lain di Indoneia dengan target, tujuan, dan waktu belajar yang berbeda. Bagi kamu yang juga mau atau akan segera kesana ada baiknya persiapkan hal-hal penting dibawah ini agar uang dan waktu yang sudah kalian korbankan bisa lebih dioptimalkan.