Hanna sendiri termasuk siswi rata-rata, tidak terlalu pintar dan tidak juga bodoh. Dia bisa masuk kelas MIPA 1 karena beruntung di kelas 10 sempat masuk ranking atas.
Tidak ada yang berbeda saat memasuki kelas baru ini, semua murid sudah saling kenal karena merupakan teman yang sama seperti di kelas 11.
Suasana kelas sudah ramai dan hampir semua bangku telah ditempati oleh setiap siswa. Yang tersisa hanyalah bangku di deretan paling pojok kiri, baris ke dua.
Hanna mendekat ke meja tersebut dan menaruh tas nya. Sejujurnya, dari tadi Hanna telah menjerit girang dalam hati. Jantungnya berdebar saat mengetahui orang yang duduk dibangku belakangnya merupakan Arjun dan teman baiknya Gio.
Sudah setahun ini Hanna memendam perasaan lebih ke Arjun. Dia ga punya keberanian lebih untuk mulai mendekati duluan walaupun Hanna terkenal sebagai anak yang humble.
Hubungan Hanna dan Arjun pun bisa dibilang tidak dekat. Saat kelas 11, mereka duduk berjauhan, tidak pernah sekelompok saat tugas dan karakter mereka yang tidak bisa memulai percakapan terlebih dahulu membuat hubungan keduanya hanya sebatas 'teman sekelas'.
"Han, lo duduk sendiri tau." Kata Sera yang duduk didepan bangkunya. Sera duduk bersama Nada, mereka adalah salah satu teman baik Hanna dikelas.
"Aman... Enak deh gua jadi punya dua bangku."
"Woy Hanamasa!"
Hanna menoleh kebelakang dengan malas pada Gio, "Hadeh duduk depan lo lagi."
Hanna lumayan dekat dengan Gio karena sifat pria itu yang jahil tapi dilain sisi bisa langsung membuat orang lain nyaman.
"Mampus lo duduk sendiri."
"Gapapa lah enak. Nih, kaki gua bisa selonjoran dikursi."
"Tapi kalo ulangan lo ga ada temen kerjasama."
Hanna mengerjapkan mata, "Dih iya lagi anjir!"
Gio tertawa, sementara Arjun yang sedari tadi mendengarkan dalam diam juga ikut tertawa.
Hanna mencoba untuk menahan senyumnya. Selama ini dia ga punya banyak momen dengan Arjun makanya Hanna sangat senang saat tau dia duduk persis di depan Arjun.
"Hanna kamu duduk sendiri ya, mau aku temenin ga?"
Hanna kembali menengok ke belakang saat Jovan memanggilnya. Dibelakang Arjun dan Gio duduk Jovan dan Dimas. Ga heran memang, mereka berempat (Arjun, Gio, Jovan, Dimas) memang telah bersahabat dari lama.
Hanna tersenyum, "Gausah Jo. Gua duduk sama dedemit gua ini."
"Dih ngeri amat Hanna anak indomie." Kata Dimas yang langsung mendapat keplakan dari Jovan, "Indigo... goblok!"
Ga lama setelah itu wali kelas XII MIPA 1, Pak Simbolon, datang. Memberikan beberapa arahan dan nasehat lalu pergi lagi setelah memberi perintah kelas untuk berunding menentukan posisi ketua kelas dan lainnya.
Anak-anak mulai bersahutan, Jovan sebagi ketua kelas saat kelas 11 berdiri didepan mengkoordinir.
"Kita voting ya, pertama ketua kelas dulu. Siapa lagi nih yang berminat?"
"Arjun nih katanya." Sahut Gio yang di iyakan oleh anak-anak kelas.
"Ah si bacot." Runtuk Arjun yang hanya dibalas senyum jahil oleh Gio.
"Oke berarti Pando, Alya, sama Arjun ya. Voting paling banyak jadi ketua kelas, voting terbanyak ke dua langsung jadi wali kelasnya ya." Kata Jovan.
Anak kelasan pun mengangkat tangan untuk memilih ketua kelas. Hanna mengangkat tangan saat pemilihan untuk Arjun. Selain karena suka, Hanna juga merasa Arjun cukup berwibawa dan bisa memimpin kelas.
"Oke fix yaa, ketua kelas Arjun, wali kelas pandu. Sekarang pemilihan bendaha sama sekretaris. Yang mau jadi bendahara siapa?" Tanya Jovan melanjutkan.
Karena tidak ada lagi yang ingin mengajukan diri jadilah Alya yang diputuskan untuk menjadi bendahara kelas.
"Siapa nih yang jadi serketaris? Masa ga ada yang mau?" Tanya Jovan lagi.
"Cewe aja cewe." Kata Afit, cowo yang duduk dipaling belakang dekat jendela.
"Hanna mau ya?" Tanya Jovan yang di iya kan oleh anak-anak kelas.
"Hah? Jangan dah tulisan gua jelek." Tolak Hanna.
"Oke serketarisnya Hanna." Kata Jovan.
Hanna memaki Jovan dengan tatapan nya yang dibalas dengan senyum meledek dari Jovan. Dia langsung menulis nama Hanna dipapan tulis.
Hanna merasa keberatan pada awalnya, tapi setelah dia pikir lagi ini bisa menjadi kesempatan mendapat momen yang lebih banyak dengan sang ketua kelas nya.
Hanna tersenyum kecil dalam diam dan mulai mempersiapkan buku untuk pelajaran pertama.
-
Komentar
Posting Komentar