Hanna sedikit tergesa mendekati ruang guru. Di depan pintu masuk, Hanna bisa melihat Arjun yang tengah bersender di tembok sambil memainkan ponselnya.
"Ar, kenapa?" Tanya Hanna yang membuat Arjun menoleh.
"Gapapa, Pak Simbolon mau nyuruh sesuatu kayanya."
Arjun kemudian mendahului Hanna masuk ke ruang guru menemui wali kelas sekaligus guru matematika yang paling terkenal killer di sekolahnya, Pak Simbolon.
"Pak, ini Hanna, sekretaris kelasnya." Kata Arjun saat sudah berhadapan dengan Pak Simbolon.
"Oh iya, sini-sini." Kata Pak Simbolon menyuruh keduanya mendekat.
"Ini kertas formulir target belajar siswa. Karena kalian udah kelas 12 jadi ini diperluluin buat nanti konsultasi sama guru BK. Nah, ini kalian fotocopy dan bagikan ke anak kelas suruh diisi semuanya ya, wajib. Besok dikumpulin langsung kasih ke guru BK."
Arjun dan Hanna sama-sama mengangguk mendengar penjelasan Pak Simbolon sambil melihat isi kertas tersebut. Disitu murid harus menjawab beberapa pertanyaan seperti PTN/PTS tujuan, jurusan kuliah tujuan, kelebihan dan kekurangan siswa, mata pelajaran unggulan, keterangan nilai, dll.
"Nah, tapi kan ini ada form jurusan yang dimau, nanti kalian sortir dulu jawaban anak-anak. Gabungin kalo pilihan jurusannya ada yang sama. Nanti kamu serketaris scan in dan gabung ke satu file, uritin berdasarkan no absen terus kasih ke saya ya, yang kertasnya dikasih ke guru BK. Ngerti kan?" Tanya Pak Simbolon sesudah menerangkan.
"Ngerti Pak." Jawab Hanna dan Arjun.
"Yaudah nih kalian fotocopy dulu."
Mereka berdua pun meninggalkan ruang guru setelah salim dengan wali kelasnya.
"Langsung fotocopy yuk Han?" Ajak Arjun.
"Yuk, jalan kaki aja kan?"
"Iya jalan aja."
Mereka berjalan keluar sekolah setelah mendapat izin dari satpam. Tempat fotocopy berada tidak jauh dari sekolah tapi lumayan jika ditempuh dengan jalan kaki.
Hanna setengah mati berusaha terlihat biasa saja didekat Arjun, dia ga mau membuat hubungannya jadi awkward dengan orang yang dia suka.
"Ar, lo udah tau mau isi apa buat formulir ini?" Tanya Hanna membuka obrolan mereka.
"Boro-boro. Gua belum kepikirin apa-apa"
"Sama lagi, gua juga bingung."
"Ntar gua liat jawaban lo aja ya Han."
"Dih bego, dikira ulangan."
Arjun tertawa, "Gapapa, dari pada ga ngumpulin."
"Kenapa ga lanjut ke jurusan seni Ar? kan lo anak band?" Tanya Hanna lagi.
Arjun memang merupakan vokalis sekaligus gitaris band sekolahan mereka, bersama tiga orang lain salah satunya Dimas sebagai pianist.
Band mereka menjadi salah satu kebanggan sekolah karena sering memenangi kejuaraan band antar sekolah maupun kota.
"Hm gimana ya. Gua suka musik kaya sebatas hobby aja, kalo buat pekerjaan gitu kayanya engga. Ga bakal boleh juga sama ortu."
Hanna mengangguk mendengar penjelasan Arjun, "Sayang banget, padahal lo oke sih kalo lagi nyanyi gitu."
Arjun menatap Hanna dan tersenyum bangga dengan dirinya sendiri, "Fans gua ya lo?"
'IYA!' Kata Hanna dalam hati.
"Dih pede lo." Balas Hanna yang membuat Arjun malah semakin mengejeknya.
"Ntar gua kasih tanda tangan gua Han, lo tenang aja."
"Boleh deh, sekalian foto ktp sama selfie lo pegang ktp ya."
"Hah buat apaan?"
"Gua pake buat pinjol."
"Anjir."
Hanna tertawa melihat jawaban Arjun. Saat ini Hanna merasa sangat senang, dia ga pernah duga akan bisa ngobrol santai dengan Arjun seperti sekarang. Hanna berharap kegugupannya tidak pernah terlihat oleh Arjun.
"Kalo lo Han, ga lanjut jadi atlet taekwondo kah?" Tanya Arjun.
Kalau Arjun aktif di ekskul band, Hanna juga aktif sebagai anggota dari ekskul taekwondo di sekolahnya. Hanna telah sampai ditingkat sabuk merah dan sering mewakili sekolahnya mengikuti kejuaraan.
"Engga, gua seleksi provinsi aja tahun kemaren ga lolos." Kata Hanna sambil tertawa.
"Tapi bagus sih." Balas Arjun.
"Kok bagus?!" Tanya Hanna sewot.
"Wkwkwk soalnya bakal tambah berat ga sih latihannya? Lawannya juga bakal tambah susah. Peluang lo luka-luka atau cidera tambah gede, kan kasian."
Baiklah, Hanna sekuat tenanga menahan kupu-kupu yang ada di perutnya, "Iya sih." Jawab Hanna sekenanya dan berjalan lebih cepat karena takut Arjun akan melihat wajahnya yang mulai memanas.
Setelah sampai di fotocopy, mereka meminta formulir tersebut difotocopy sebanyak 23 lembar sesuai jumlah murid dikelas mereka, membeli map dan peralatan lain untuk keperluan kelas mereka.
"Ar, ini nanti scannya gimana ya?"
"Pake hp aja, ada kok aplikasinya."
"Oh oke, nanti bantuin gua ya."
"Aman."
Mereka berdua mulai kembali berjalan ke sekolah, tapi ga berapa lama setelahnya Arjun menghentikan langkah.
"Eh Han ada cilok, mau beli ga?" Tanya Arjun.
"Mau."
Mereka pun menghampir Mang Dadang, tukang cilok langganan yang sering mangkal di depan sekolah.
"Mang Dadang beli cilok." Kata Arjun saat telah sampai di depan gerobak.
"Eh Mas Arjun, kok jam segini ada disini?" Tanya Mang Dadang Heran.
"Iya Mang abis nge fotocopy."
"Ohh.. Eh sama Mba Hanna juga." Kata Mang Dadang saat melihat Hanna berjalan di belakang Arjun.
Hanna jadi kebingungan kenapa Mang Dadang tau namanya, seingatnya dia termasuk anak yang jarang jajan cilok. "Kok bisa tau nama saya Mang?"
"Loh ya tau, orang Mba Hanna suka dice-"
"Mang Dadang beli cilok 10ribu, saos nya yang banyak Mang."
Belum selesai Mang Dadang menjelaskan, Arjun lebih cepat memotong dan menepuk tangan Mang Dadang, mendesak agar segera membuat pesanannya.
"Oh iya siap-siap."
"Lo mau ga Han?" Tanya Arjun mengalihkan fokus Hanna yang sempat kebingungan.
"Mau, saya 5ribu ya mang. Jangan pake saos ya, kecap aja."
"Siap." Kata Mang Dadang dengan cepat membuat pesanan mereka berdua.
-
Komentar
Posting Komentar